RI Akan Tuntut Uni Eropa ke WTO atas Biaya Import Biodiesel

RI Akan Tuntut Uni Eropa ke WTO atas Biaya Import Biodiesel

January 16, 2020 0 By admin

Menteri Koordinator Bagian Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia akan menuntut Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) atas kebijaksanaan biaya bea masuk import buat biodiesel. Awalnya, Komisi Uni Eropa telah menginformasikan pungutan bea masuk anti bantuan sebesar 8 sampai 18 % buat import biodiesel asal Indonesia. Pengenaan bea masuk adalah aksi perlawanan dari Uni Eropa atas bantuan yang dipandang tidak adil dari Indonesia.

“Pasti pasti berproses, ada yang lewat WTO dan protes lainnya,” sebut Airlangga, Rabu (11/12). Sayangnya, Airlangga belum juga dapat menjelaskan kapan kira-kira tuntutan itu akan dikirimkan. Begitu halnya komunikasi yang sekarang tengah dijalin oleh kedua pihak tentang ketentuan pengenaan biaya bea masuk import biodiesel dari Uni Eropa itu. Tidak cuma lewat WTO, dia mengatakan Indonesia peluang akan mengulas ini dalam Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Mendalam Indonesia serta Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA).

“Pasti jadi sisi yang dikatakan, kan tidak dapat mereka ambil kebijaksanaan seperti itu,” tuturnya. Walau akan memberikan laporan, tetapi Airlangga lihat ketentuan biaya baru dari Uni Eropa sebenarnya tidak berefek banyak buat kapasitas export Indonesia. Karena, realisasi import biodiesel dari Tanah Air ke Benua Biru sebetulnya tidak banyak. “Kita sangat kurang export biodiesel (ke Uni Eropa). Tetapi pasti ini jadi catatan kami jika Uni Eropa makin ketat untuk biodiesel,” paparnya.

Baca juga : Oezil Merasakan Hidup Kembali Semenjak Kehadiran Arteta

Di lain sisi, menurut dia, Indonesia harus dapat ambil kebijaksanaan lain yang masih dapat pastikan jika biodiesel di negeri dapat diserap. Diantaranya lewat program mandatori biodiesel 30 % (B30) yang akan diaplikasikan per 1 Januari 2020. “Indonesia dengan mengaplikasikan B30, karena itu kami tak perlu export ke Eropa. Keperluan di negeri telah dekati 10 juta kiloliter sendiri,” terangnya.

Sesaat Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menjelaskan komunikasi telah dijalin dengan faksi Uni Eropa, tetapi pilihan tuntutan sebenarnya terus ditelaah. Karena, menurut dia, pemerintah butuh menilai kapasitas export biodiesel ke Uni Eropa terlebih dulu. “Belum, belum (tuntut lewat WTO), kelak kami lihat. Kami rundingkan dahulu dengan Uni Eropa, kami bicara masalah IEU CEPA, kemungkinan dalam itu akan diulas hal barusan,” katanya.

Walau demikian, Agus berpandangan jika pengenaan biaya bea masuk import biodiesel pasti memberikan efek pada nilai perdagangan dari komoditas itu. Tetapi, efek keseluruhnya pada kapasitas export nasional terus disaksikan. “Ya sebetulnya dengan semua jenis biaya kami keberatan, namanya orang jual atau dagang adanya biaya, jika dapat tidak ada biaya. Itu fungsinya kami kerja sama juga dengan negara partner untuk tingkatkan export,” ujarnya.